Saatnya Timnas Indonesia Ubah Sejarah

0
248
Berita Banyuwangi, jenggirat tangi, info banyuwangi, seputar banyuwangi, info banyuwangi terbaru, berita banyuwangi terbaru, pariwisata banyuwangi, iklan banyuwangi, promosi banyuwangi, pasang iklan banyuwangi, kirim berita banyuwangi, berita unik banyuwangi, wisata banyuwangi,

Jakarta, CNN Indonesia — Pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, mengatakan pertandingan leg kedua final Piala AFF 2016 melawan Thailand adalah momen yang tepat bagi Skuat Garuda untuk mengubah sejarah.

Indonesia punya keunggulan 2-1 atas Thailand memasuki pertandingan final leg kedua yang akan berlangsung di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/12). Namun, Indonesia punya rekor buruk jika bermain di Thailand pada ajang Piala AFF.

Dari tiga pertandingan Piala AFF di kandang Thailand, Indonesia selalu menelan kekalahan. Pada Piala AFF 2000, Indonesia dua kali dari Thailand yang menjadi tuan rumah. Indonesia kalah dengan skor yang sama, 1-4, di babak grup dan di final.

Sementara pada semifinal leg kedua Piala AFF 2008, Indonesia tumbang 1-2 di Stadion Rajamangala. Itu merupakan kekalahan terakhir Indonesia di markas Thailand pada pertandingan Piala AFF.

Seperti dikutip dari Fox Sports Asia, Riedl tidak khawatir dengan rekor buruk Indonesia jika bermain di Thailand. Pelatih asal Austria itu mengatakan sudah saatnya Timnas Indonesia mengubah sejarah.

Selain berambisi merebut kemenangan pertama di kandang Thailand pada ajang Piala AFF, Timnas Indonesia juga berpeluang untuk kali pertama dalam sejarah merebut gelar Piala AFF.

“Saatnya mengubah sejarah. Untuk apa lagi kami ada di sini? Memenangi gelar Piala AFF tentunya,” ujar Riedl.

“Kami tahu akan sulit, tapi kami berada di Bangkok bukan untuk liburan. Masih ada tempat yang lebih baik untuk menghabiskan waktu liburan daripada kota besar di Thailand,” sambungnya.

Riedl juga memastikan skuat Timnas Indonesia tidak merasakan tekanan jelang leg kedua. Pelatih 67 tahun itu mengatakan sejak awal status non-unggulan yang dimiliki Indonesia membuat Boaz Solossa dan kawan-kawan tanpa beban.

“Sekarang kami ada di final. Mungkin hanya ada satu dari seratus orang yang berpikir kami bisa ke final. Kami sudah memenangi keraguan, tapi kami tidak merasakan tekanan lebih,” tegas Riedl.

[sumber.cnnindonesia]