Pariwisata Banyuwangi Go Digital dengan ITX

0
383
Berita Banyuwangi, jenggirat tangi, info banyuwangi, seputar banyuwangi, info banyuwangi terbaru, berita banyuwangi terbaru, pariwisata banyuwangi, iklan banyuwangi, promosi banyuwangi, pasang iklan banyuwangi, kirim berita banyuwangi, berita unik banyuwangi, wisata banyuwangi,

Banyuwangi – Antusiasme pelaku industri pariwisata Banyuwangi sangat terasa saat workshop Go Digital di Aula Kantor Telkom. Sekitar 100 industri ikut serta dalam acara ini dan mulai belajar mengenai dunia digital, terutama hal teknis dalam bisnis online. Acara ini menampilkan narasumber yaitu Samsriyono Nugroho Stafsus Menpar Bidang IT Don Kardono, Stafsus Menpar Bidang Komunikasi Publik dan Claudia Ingkiriwang, Ketua Probis Indonesia Travel Xchange (ITX).

“Siapa yang belum punya website?” tanya Claudia Ingkiriwang, Ketua Probis ITX –Indonesia Travel Xchange- mengawali diskusinya.

Semua peserta mengaku sudah berpromosi melalui media sosial dengan berbagai platform, dari Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Line, dan lainnya. Hanya 50% yang sudah memiliki website, namun kebanyakan belum dilengkapi commerce-nya, seperti booking system dan payment engine.

“ITX akan support dengan website template yang sudah ready commerce, booking system dan payment gateway dengan free alias gratis,” jelas Claudia.

Claudia mengatakan jika belum ada fasilitas book dan pay dalam satu platform maka belum masuk kategori go digital. Oleh karena itu, mereka dianggap baru berpromosi atau marketing secara online, tetapi transaksi bisnisnya masih offline. Go Digital, mensyaratkan semua tahapan dari look, book, pay sudah terhubung secara online, bisa dengan diproses dengan smartphone, bisa juga dengan personal computer.

Ketika tahapan look atau search, book dan pay sudah bisa dilakukan secara online, maka sudah layak disebut go digital. Itulah sebabnya, Kemenpar membangun Digital Market Place, khusus industri pariwisata yang mempertemukan sellers dan buyers ke dalam satu platform atau mall digital.

“Kalau untuk booking masih harus telepon, pembayaran masih transfer atau antre di teller bank, itu belum bisa disebut digital. Mungkin promosinya sudah digital, tapi transaksi bisnisnya masih manual? Tugas kami membantu mendigitalisasi industri wisata, dari booking awal, sampai transaksi pembayaran,” katanya.

Dalam sesi tanya jawab ada yang bertanya mengenai kemungkinan UMKM bergabung dengan ITX. “Boleh banget! Justru kami ingin semua industri kecil, mikro dan menengah, yang bergerak di sektor Pariwisata ikut gabung, dan free. Unsurnya 3A, industri Atraksi, Akses dan Amenitas, semua harus ada. Atraksi misalnya pengelola theme park, tempat wisata, taman bermain, dan lainnya. Akses, seperti rent car (persewaan mobil), diskon ticketing airlines, diskon khusus kapal penyeberangan, dan lainnya. Amenitas seperti hotel, resort, homestay, dan glamping, dan lainnya,” tutur Claudia.

“Pertama, UMKM itu harus punya AD/ART. Kedua, yang mendaftar adalah pengurusnya, untuk semua anggotanya. Nanti, pengurusnya yang diberi booking dan payment system, dan website yang ready commerce. Anggotanya sebagai produk,” lanjut Claudia.

Claudia juga mengatakan lebih baik semua usaha diintegrasikan dalam satu web agar memudahkan konsumen tetapi dikelola dengan professional. Claudia juga menambahkan “Atraksi apapun yang dipaketkan dan dipasarkan bisa dimana saja. Bisa di atas gunung, di dasar jurang, di tengah pulau terpencil, yang tidak ada aksesnya. Tetapi, admin-nya kan tetap di bawah? Adminnya harus terkoneksi secara online,” jawabnya.

Bahkan jika UMKM ingin mengganti konten dimungkinkan karena CMS atau content management system-nya akan diberikan secara gratis juga.

Sebelumnya Menpar Arief Yahya, sejak Rakornas III beberapa waktu lalu telah meluncurkan Go Digital Be The Best. Dia meyakini dengan Go Digital dapat membantu realisasi target Presiden Joko Widodo dengan 20 juta wisman di 2016.

“Hasil yang luar biasa, hanya bisa dicapai dengan cara yang tidak biasa! Dan Go Digital ini adalah salah satu cara tidak biasa yang bisa dipakai untuk mengejar target luar biasa itu,” kata Arief Yahya yang juga asli Banyuwangi, Jatim itu.

Arief Yahya menyebut “more digital, more global. More digital more personal. More digital more professional“. Dalam selling, Kemenpar memilih untuk membangun Digital Market Place, yang sudah dipelajari dengan matang, dan ITX di-endors untuk membangun platform tersebut.

Seperti diketahui salah satu faktor yang mendorong pariwisata Banyuwangi adalah faktor CEO-nya, Bupati Abdullah Azwar Anas yang sangat fokus menempatkan pariwisata sebagai core economydaerahnya.Masyarakatnya semakin sadar bahwa pariwisata adalah pilihan yang terbaik, dan sudah mulai terasa dampak ekonominya. Dengan Go Digital, maka potensi Banyuwangi bisa lebih cepat, lebih besar, dengan target market yang lebih mendunia.

[sumber.detikcom]