Hasnan Singodimayan, Tokoh Masyarakat Using Banyuwangi

0
812

Hasnan Singodimayan salah satu Budayawan dan Tokoh Adat dari Komunitas Masyarakat Adat Using, Kabupaten Banyuwangi. lahir di Banyuwangi, 17 Oktober 1931. Menulis puisi, cerpen dan esai sejak usia muda, dimuat di harian Terompet Masyarakat Surabaya, Surabaya Post, Bali Post, Gandrung Pos, Banyuwangi Pos, dan Gema Blambangan. Pernah menjadi Ketua Himpunan Seni Budaya Islam Banyuwangi, Koordinator Badan Koordinas

Selama puluhan tahun, beliau berjuang memperkenalkan Masyarakat Adat Using melalui tulisan-tulisannya yang kemudian dijadikan buku. Tulisan-tulisannya juga disirkulasikan dalam BLOG tentang Ritual Adat di Komunitas Adat Using. Di usianya yang sudah 85 tahun, beliau masih setia meneruskan perjuangannya.
Beliau dahulunya merupakan seorang pegawai negeri di bidang Penyuluh Perikanan di Kabupaten Banyuwangi. Sekitar tahun 1970-an, didorong oleh kecintaannya pada adat istiadat dan budaya Komunitas Adat Using, beliau mulai membuat tulisan-tulisan tentang adat istiadat Using.

Pada tahun 1973, ia membuat sebuah cerita pendek (cerpen) yang berjudul Lailatul Qadar yang meraih Juara III dalam perlombaan cerpen yang diadakan Dewan Kesenian Surabaya. Runner up pada perlombaan puisi yang diselenggarakan oleh BBC London pada tahun 1980. Ia juga pernah menjadi pemenang penulisan kisah bertema kepahlawanan yang dihelat oleh Angkatan 45 pusat dan karyanya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Selain itu ia pernah menjadi penulis rubrik novelet di surat kabar Bali Post dan menulis sandiwara radio berbahasa Using (bahasa lokal Banyuwangi). Ia juga menerbitkan buku berjudul Kerudung Santet Gandrung.

Ia pernah aktif dalam Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) pada periode 1960 hingga 1965, menjadi anggota Seksi Sastra dan Seni Islam Dewan Kesenian Blambangan (DKB) pada tahun 1980 hingga 1995, dan Penasehat Dewan Kesenian Blambangan (1995 hingga kini). Selain itu ia juga menjadi Koordinator Badan Koordinasi Kesenian dan Kepariwisataan Blambangan (BK3) serta anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara sebagai wakil masyarakat adat Using.

Dia meyakini, dengan nilai-nilai keterbukaan, egalitarian, watak dialogial, akan menjadi landasan budaya Using lestari dan berkembang sesuai generasi dan zamannya. Paradigma transformasinya adalah al-muhafadhah ala qodimis shalih wal ahdu bil jadidil ashlah (mempertahankan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).
Paradigma yang dia serap dari Pondok Darussalam Gontor. “Ada atau tak ada saya, budaya Using tetap lestari dan berkembang. Saya hanya bagian secuil dari budaya Using,” kata kakek enam cucu itu.

Melalui tulisan-tulisannya, Masyarakat Adat Using menjadi lebih percaya diri dengan identitas dan praktek-praktek kearifan adat tradisi mereka. Adat budaya Masyarakat Adat Using menjadi lebih dikenal dan diakui oleh publik yang lebih luas.

[sumber.Berbagai Sumber]